17 September 2014

Problema BBM

Jadikan Masyarakat Inovatif juga Produktif


Kelangkaan BBM (Bahan Bakar Minyak) yang terjadi karena adanya pengurangan kuota dari pemerintah, mengakibatkan beberapa SPBU di beberapa kota sempat kesulitan. Hal itu juga berdampak pada masyarakat yang sebagian besar menggunakan bahan bakar untuk kebutuhan sehari-hari. Akibat kelangkaan itu, tidak jarang masyarakat beralih pada BBM nonsubsidi seperti pertamax plus yang harganya jauh lebih mahal.
Terkait isu mengenai kenaikan harga BBM di tahun ini (2014), menjadikan tantangan tersendiri baik pemerintah maupun masyarakat. Adanya penyebab kenaikan harga BBM, masih menjadi wacana yang simpang siur di lingkup pemerintahan. Tidak sedikit pemberitaan, kenaikan dipicu adanya alokasi subsidi di APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) hampir habis. Untuk itu pemerintah berharap adanya dukungan dari masyarakat adanya kebijakan untuk program produktif tersebut.
BBM bersubsidi yang diberikan pemerintah dinilai tidak tepat sasaran. Artinya banyak penikmat BBM bersubsidi justru dari kalangan yang mampu dalam segi ekonomi. Keadaan itulah yang semakin memperparah kebutuhan minyak mentah setiap tahunnya. Sehingga pemerintah harus dapat menutup kerugian yang diakibatkan harga minyak mentah di pasar Internasional dengan harga BBM yang disubsidi.
Keadaan BBM yang mengalami naik turun, sudah menjadikan hal yang harus masyarakat hadapi. Sehingga untuk menurunkan dampak kesenjangan ekonomi akibat kenaikan harga BBM, pemerintah harus berupaya membuat program dan pelatihan pada pemanfaatan bahan selain dari minyak.
Sudah banyak masyarakat yang menemukan ide kreatif dan bermanfaat untuk menanggulangi kenaikan harga BBM. Seperti pemanfaatan energi yang terbuat dari Migas. Pemanfaatan Gas pada elpiji yang sering digunakan masyarakat dalam membuat inovasi itu. Bahan tersebut mampu menekan pengeluaran biaya karena diklaim setiap tabung gas elpiji berukuran 3 kg mampu menempuh jarak hingga 100 km.
Beragam kebutuhan masyarakat yang semakin tinggi, mendorong masyarakat untuk bisa tetap menekan pengeluaran dan meningkatkan pendapatan walapun keadaan harga BBM mengalami kenaikan.
Sikap pemerintah dalam menyelesaikan keadaan itu, harus dapat mendukung dan mengupayakan adanya inovasi tersebut menjadi masyarakat yang produktif, bukan lagi konsumtif. Budaya masyarakat yang konsumtif akan menimbulkan ketergantungan masyarakat pada keadaan.
Peluang terobosan tersebut, mampu memberikan nilai yang lebih untuk dapat dikelola serta dikembangkan pemerintah menjadi salah satu kontribusi dalam mengupayakan keadaan harga BBM akan lebih setabil.

Usaha untuk dapat mengembangkan inovasi menjadi bahan produktif, pemerintah tetap mengupayakan untuk masuk dalam lingkup nonakedemik maupun akademik terutama sekolah-sekolah kejuruan. Kerjasama di lingkup akademik akan memotivasi generasi-generasi baru yang diharapkan mampu mengembangkan skill mereka terkait inovasi pemanfaatan tenaga dari Migas tersebut.

coruption

Koruptor tidak sama dengan Orang Gila

Sebagai Negara demokrasi, Indonesia telah melawati masa-masa persaingan politik yang memanas mulai dari pesta wakil rakyat (caleg) hingga pemilihan calon dan wakil presiden periode 2014-2019. Namun hal itu tidak mengurangi realita kasus-kasus yang membelit birokrasi Negara ini. Korupsi salah satu permasalahan yang terus menggerogoti nasib rakyat kecil di Negara Indonesia ini.
Budaya korupsi memang sudah menjadi rahasia umum, bukan lagi tindakan yang harus di haramkan (dihindari). Tetapi justru di lanjutkan dan dilindungi, jika ada kesempatan.
Masyarakat Indonesia menjadi prihatin, seolah-olah dibuat gila” dengan perilaku yang dilakukan para petinggi Negara. Mulai dari kalangan menteri hingga kader politisi yang ingin memperkaya diri.
Yang menjadi pertanyaan, dimana bedanya Koruptor dengan Orang Gila?. Pada hakekatnya orang gila, dapat dipengaruhi adanya keturunan, tekanan hidup, serta permasalahan ekonomi yang tidak bisa dihadapi. Sehingga orang yang semula “normal” dengan adanya tekanan-tekanan tersebut akan sedikit berbeda dalam perilaku seperti orang pada umumnya. Maka dari itu orang gila identik dengan sebutan “Sakit Jiwa”. Sehingga orang tersebut perlu direhabilatas atau di rawat secara intensif untuk mengembalikan kejiwaanya.
Bagi koruptor yang hanya merugikan Negara, mereka bukan lagi Sakit Jiwa tetapi Jiwa Yang Sakit. Untuk itu, masyarakat harus dapat membedakan siapa yang Sakit Jiwa dengan orang yang ingin membuat Jiwanya Sakit.

Koruptor bukan lagi rakyat biasa (jelata atau miskin), namun mereka para penguasa. Sehingga dari latarbelakang kehidupanpun sudah sangat jauh dengan orang yang disebut Sakit Jiwa. Semoga di Negara ini tidak hanya berdiri RSJ (Rumah Sakit Jiwa) tetapi RJS (Rumah Jiwa yang Sakit) bagi mereka.