04 Desember 2014

Relathionship
Relathionship
Pacaran kok perang?
Dalam menjalani cinta, tidak jarang seseorang menghadapi atau merasakan kepahitan akan namanya cinta. Umpatan dan kata-kata kasarpun sering keluar dari orang yang merasa di bebani oleh perasaan yang sakit, sedih, dan kecewa dengan cintanya. Tidak dapat dipungkiri hal itu juga terjadi pada masalah asmara.

Sebuah hubungan dalam asmara terkadang juga terhambat adanya konfilk antar pasangan. Konflik tidak hanya sekali atau dua kali, mungkin sering terjadi di setiap kegiatan bahkan dalam komunikasi mereka yang kurang harmonis.

Semua pasti mempunyai niat baik dalam manjalin hubungan dan ujungnya agar dapat menjadi pasangan hidup dalam keadaan senang maupun sedih. Tapi, dalam pacaran saja sudah perang dunia bagaimana dengan selanjutnya?.

Ketika sebuah hubungan sudah tidak sejalan, akan sangat berdampak pada komunikasi mereka. Sehingga akan berakibat kebobrokan dalam menjalin hubungan.

Bertengkar, marah-marah, sampai dengan tindakan KDMP (Kekerasan Dalam Masa Pacaran) tidak sedikit dilakukan oleh pasangannya. Tidak hanya pihak laki-laki tetapi juga dapat dilakukan oleh pihak perempuan. Sampai-sampai ada istilah yang menggambarkan bahwa ketika pasangan bertengkar akan terjadi masa kebisuan tujuh hari tujuh malam.

Bukan hanya berhenti pada tindakan yang saling mengasingkan diri dan membisu dengan pasangan. Hal lainpun akan ikut mempengaruhi mereka dalam melakukan sebuah manipulasi atau bisa dibilang mengagungkan sebuah kesempatan.

Hal yang sudah biasa terjadi yaitu mencari kesempatan dalam me-refresh keadaan hati masing dari mereka. Namun, biasanya cara yang dilakukan akan menyalahi aturan dalam sebuah hubungan yaitu dengan bersandar ke orang lain yang dianggap lebih nyaman dari pada dengan pasangannya. Waw, sebuah keberanian yang mengancam diri sendiri.

Jalan itu dianggap mudah dan bisa menghilangkan rasa dan fikiran kalut yang terjadi. Alasan “nikung” dalam bahasa kerennya adalah hal yang sudah umum dilakukan. Usut punya usut akhirnya hubungan mereka bukan malah membaik namun semakin rancu dan meyulutkan api cinta.

Yah, apa bedannya selingkuh dengan “nikung”. Mungkin sama saja hanya berbeda dalam penyebutan istilahnya.

Akibat ulah yang dilakukan masing-masing dari mereka, yang semula hanya membisu menjadi hal yang pilu dan pahit untuk diterima.

Ketika kejadian berpaling pada orang, sering dikaitkan dengan hal bodoh yang cukup untuk sebuah simbol dengan istilah konyol seperti LDR. Istilah tersebut pada umumnya digunakan untuk merepresentasikan terjadinya hubungan jarak jauh dalam berkomunikasi maupun tempat.

Tapi hal bodoh itu maksudnya untuk mengutarakan persepsi mereka dalam menutupi permasalahan dangan pasangan. Ya LDR bisa diartikan seperti “Lali Duwe Relations”, “Lek Diselingkuhi Raketok”, dan “Lho Ditinggal Rabi”. Istilah tersebut sudah tidak asing untuk didengarkan.

Sebuah hubungan memang tidak luput dari permasalahan, namun jika mereka dapat mengartikan permasalahan adalah sebuah umpan untuk lebih maju. Mungkin orang akan sadar bahwa permasalahan bukanlah musuh tunggal dari percintaan. Namun bumbu dalam setiap hubungan yang berarti untuk mengukur seberapa kuat orang mempertahankan hubungannya.