Pembangunan Untuk Rakyat Agraris
Melalui pesta demokrasi lima tahunan itu, bangsa Indonesia berharap agar suatu hari nanti menemukan pemimpin yang tepat dan peduli untuk kemajuan pembangunan di Indonesia. Yah, pilihan calon presiden dan wakil presiden adalah momentum dimana masyarakat akan menggunakan hak pilihnya, dengan melihat dan mendengarkan setiap visi dan misi untuk perubahan baru.
Dari berbagai banyak program yang diusung oleh setiap pasangan capres dan cawapres, masyarakat Indonesia menaruh harapan penuh dengan mendukung program-program terutama berkaitan dengan pembangunan.
Masalah mengenai pembangunan, setidaknya masyarakat sudah dapat memilih atau menentukan dari acara debat yang diselenggarakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) dengan mengangkat tema “Pangan, Energi, dan Lingkungan Hidup” tidaklah jauh dengan pemaparan dan realisasi visi dan misi pembangunan yang akan dijalankan pasangan yang terpilih.
Bahwa tidak jarang pasangan capres maupun cawapres mengkampanyekan program yang menyinggung adanya perubahan pembangunan yang baru di Indonesia. Sehingga dari program tersebut, ada salah satu program pasangan yang tidak jauh beda yaitu mengenai pengadaan lahan sawah untuk petani. Setiap pasangan menjajikan bahwa jika nanti terpilih, akan memanfaatkan sawah yang berukuran bukan lagi meteran tapi hektar untuk wadah petani.
Adanya program kepeduliannya terhadap pembanguna agraris, menjadikan masyarakat menaruh harapan besar terhadap pemimpin baru. Keadaan lahan dan bahan pangan yang melimpah memang salah satu tolok ukur kemakmuran masyarakat. Namun hal itu akan sia-sia jika hanya janji belaka. Dimana hanya memanfaatkan keadaan masyarakat Indonesia yang sebagaian besar berprofesi sebagai tenaga agraris.
Impor bahan pangan adalah salah satu masalah bagi bangsa, dimana harga pangan didalam negeri akan menurun. Sehingga masyarakat agraris hanya akan merasakan dampak kebijakan pemerintah yang tidak seimbang dengan nasib petani lokal.
Hanya janji belaka yang ditelan oleh masyarakat, jika pemimpin Negara hanya bisa merumuskan perencanaan tanpa realisasi yang jelas. Tidak terkecuali mengenai masalah kesejahteraan para petani atau masyarakat agraris.
Masyarakat agraris bukan semata-mata hanya butuh pada perluasan lahan pertanian. Tapi bagaimana caranya pemberdayaan kelompok petani ini dapat berjalan dengan seimbang.
Pemberdayaan itu dapat dilakukan dengan menciptakan kelompok amupun bank khusu untuk petani, serta dengan memberikan arahan potensi kedepan dalam mengembangkan usaha pertaniaannya.
Disisi lain memang masyarakat agraris perlu juga adanya dana guna untuk operasional, tapi akan menjadi tidak terealisasi jika itu hanya peberian lahan tanpa adanya pengetahuan dan pemberian konsep baru dari pemerintah.
Pada akhirnya petani hanya akan memanfaatkan keadaan lahan dengan tidak maksimal. Belum lagi keadaan pangan dan harga hasil pertanian sangat jauh dari harapan. Artinya masyarakat merasa senang akan perluasan lahan. Tetapi disisi lain, masyarakat agraris akan merasa dilema karena bahan pangan yang di impor tersebut tetap tinggi. Hal itu hanya akan menambah beban masyarakat, yang tidak bisa meikmati hasil pangannya dengan maksimal. Sehingga yang terjadi bahan pangan didalam negeri akan tergempur oleh pasukan dari luar, akibatnya petani tidak bisa mengembalikan biaya operasionalnya kembali.
