20 Oktober 2014

Apakah Cinta Butuh Setara?

Waduh gan, setara apanya ini. Setara tinggi badannya atau setara gemuk alias gendutnya? peace. Ya, kadang cinta kita menemui kendala atau permasalahan ketika cintanya yang belum setara dengan pasangan. Setara disini dapat berarti bahwa sudah adanya kesamaan atau tidak berbeda jauh. 
Bicara mengenai kesetaraan, mungkin kita tidak hanya belajar bagaimana tentang setara dalam konteks asmara. Di samping itu, jauh lebih banyak yang akan di singgung dan cukup sering terjadi baik didalam dunia asmara. 
Ya, coba kita lihat dengan permasalahan yang membahas setara pada tingkat sosial dan ekonomi. 
Bukan hal yang baru lagi, ketika seseorang dihadapakan pada jalinan asmara yang baru mereka bangun dimana harus menuai akhir karena ketidak setaraan antara mereka berdua. 
Padahal pada awalnya pasangan hanya membicarakan tentang perasaaan yang mereka rasakan pada seseorang yang akan menjadi pasangannya. 
Permasalahan itu, tidak melulu terjadi pada mereka yang sudah berumah tangga. Namun, permasalahan itu juga sering terjadi pada masa-masa seseorang masih dalam konteks berpacaran bahkan masih pada soal PDKT. 
Walaupun gan, kita sering mendengarkan bahwa cinta yang sebenarnya adalah cinta yang menerima apa adanya. Apakah betul seperti itu? Dapatkah kita menerima itu 100 %?. Adanya pandangan seperti itu, tidak juga semulus membalikkan tangan. Mungkin kata atau kalimat itu bisa saja hanya “formalitas” semata. 
Formalitas di sini bisa berarti hanya dapat menyenangkan orang secara sepintas, atau tidak tentu. Ada masa dimana kata tersebut harus berhenti karena adanya permasalahan perbendaan. Yah, bisa dikatakan tidak setara atau tidak sama. 
Perbedaan yang dapat terlihat oleh mata atau langsung dalam masa perkenalan misalnya seperti melihat ciri-ciri fisik, kelakuan, dan hobi. Pada saat berkenalan mungkin aspek-aspek seperti yang disebutkan tadi akan dipelajari atau diketahui dari orang yang akan dikenalnya. 
Penasaranlah yang menimbulkan keingintahuan seseorang terhadap seseorang lainnya, apalagi dalam masalah asmara. Sudah menjadi hal yang wajib diketahui oleh masing-masing pasangan untuk mengetahui orang yang ingin mencintainya. 
Sedikit demi sedikit orang akan mengetahui kebiasaan yang ada didalam diri seseorang yang dicintai. Entah kebiasaan baik atau buruk yang harus siap diterima dengan bijak.Ketika pengetahuan seseorang itu cukup banyak dari orang dicintai, mungkin mereka merasa akan mengembalikan pengetahuan itu kepada dirinya sendiri. Yah, apakah pengetahuan yang didapat cocok dengan dirinya atau sebaliknya yaitu jauh dari dirinya. Itu lah awal permasalahan yang timbul, sehingga orang akan merasa lebih intropeksi diri dari pada memaksakan kehendak. 
Apalagi setiap orang akan menemui perasaan yang dilema. Pada posisinya, mereka penasaran dengan orang yang dicintainya, namun disisi lain mereka diterpa keadaan yang sulit karena adanya perbedaan yang tidak sama dengan dirinya. 
Apakah kita ingat pepatah mengatakan “dari mata turun kehati”. Meskipun banyak yang mengatakan juga bahwa cinta itu ada didalam lubuk hati, tanpa memandang apakah baik atau jelek. Coba berfikir lagi, orang akan makan saja pasti melihat apa yang akan dimakan, apalagi dengan perasaan cinta. Orang dapat mengartikan bahwa itu hanyalah hembusan angin sesaat yang sejuk tapi sebentar. Secara logika orang melihat dulu bentuk atau barangnya sebelum menerimanya. 
Di dalam memasukkan hati (perasaan), orang juga akan pilih-pilih untuk dapat diterimanya. Sehingga tidak secara langsung mereka terima dan masukkan dalam hatinya. 
Proses mata turun ke hati setidaknya mempunyai korelasi antara cinta, apakah sudah setara atau belum. Melalaui mata, orang dapat melihat dan mempersepsikan apa yang mereka pandang. 
Misalkan sajaa pada masalah yang sering dialami oleh setiap orang yaitu proses PDKT yang dilakukan si pria atau si wanita. 
Namun bila mengamati proses PDKT, pasti cowok yang disebut sebagai actor yang harus bertindak lebih awal dalam proses tersebut. Iya, lagi-lagi masalah dengan keberadaan cowok yang selalu maju. 
Tidak pria dan juga tidak wanita pasti akan merasa senang ketika sudah mengetahui seseorang yang selama itu yang membuat penasaran didalam hati dan perasaannya. Ya gan, mungkin ujian selalu ada di dalam setiap langkah manusia. Tidak menutup kemungkinan pada setara dalam cinta. 
Banyak kendala mulai dari segi fisik sampai hal yang menyinggung masalah latarbelakanag ekonomi dan sosial. Permasalahan yang sering terlihat secara cepat dan masuk dalam fikiran adalah keberadaan ciri-ciri fisik seseorang. 
Keberadaan fisik sering dikategorikan cantik, jelek, manis, ganteng, dan masih banyak lagi. Untuk menyiasati itu, banyak orang memberikan persamaan dengan mengatakan bahwa hal itu semua relatif. Tapi masih banyak kenyataannya dilapangan yang tidak sama dengan pada teori bahwa dikatakan itu semua relatif. 
Jika memang relatif, kenapa orang tidak menerima keadaan seseorang dengan mengatakan “aku akan menerima dia apa adanya”. Terus dimana keberadaan teori itu?, musnah atau mungkin hilang dan muncul lagi?. 
Mereka mengambil contoh seperti tampang wajah, misalnya ada yang bilang ia ganteng, cantik dan manis. Apalagi ciri-ciri wajah seseorang yang dicintainya, mungkin akan secara cepat masuk dalam ingatan mereka. 
Mulailah sikap intropeksi diri dimana orang akan mencocokan dengan dirinya, apakha sudah pantaskah dengan dia? Atau terlalu jauh dengan dia?. Seseorang akan merasa senang ketika ada kecocokan yang dapat mengimbangi seseorang yang dicintainya. Namun tidak bagi seseorang yang merasa bahwa dirinya sudah memiliki perbedaan yang jauh dengan orang yang dicintainya. Tidak hanya berhenti di satu titik, namun perasaan minder dan galau selalu terbayang dikepalanya. 
Pada akhirnya, mereka hanya dapat meratapi dan memendam perasaannya dari pada mengungkapkannya. Iya, adanya intropeksi diri mungkin mereka dapat belajar bahwa kesabaran dan kebijaksanaan harus tertanam pada diri seseorang. Mungkin mereka ingin mengatakan “lebih baik mengorbankan perasaan dari pada menderita karena asmara”. 
Sifat minder muncul karena adanya perasaan merendahkan diri. Sebatas ciri fisik yang lebih unggul dari mereka, membuat fikiran dan kelakuan mereka berbeda. Namun hal itu tidak baik juga terus menerus terjadi pada diri seseorang. Mereka diharapkan mampi bangkit dan lebih semangat lagi dalam menentukan jalan masa depan mereka.
Positif thingking menjadikan motivasi bagi mereka untuk bisa lari dan merubah keadaannya. Mereka akan belajar dari seseorang yang dianggap lebih unggul dari dirinya, karena itu menjadikan sebuah pelajaran baginya tentang pentingnya menghargai apa yang sudah dimilikinya.