![]() |
| tantangan dan harapan |
Mengukur Kemampuan Diri Sendiri
Sering seseorang terjebak dalam masalah ataupun
situasi yang rimut dan tak terkendalai. Bahkan keadaan memaksa dirinya untuk
melakukan sesuatu yang baru juga berbeda dengan sebelumnya. Namun, kadang tak
disadari bahwa perubahan itu tidak sebanding dengan kemampuan dirinya.
Akhirnya, keterpaksaan dan tekanan dalam dirinya akan bercampur aduk untuk
membuat sebuah keputusan.
Pengaruh dari luar sangatlah tiggi, dalam ilmu
sosiologi mengatakan bahwa perubahan seseorang dipengaruhi dari beberapa
elemen. Walaupun keluarga disebut sebagai pengaruh yang paling rawan, namun
kenyataannya sekarang bahwa hal itu sudah berubah. Bukan lagi elemen dari
keluarga, tetapi justru dari elemen pergaulan dilingkunganya. Lebih spesifik
lagi, pergaulan dikaitkan dengan lingkungan teman, bagaimana cara bergaul, hal
apa yang digemari dalam kelompok itu, bahkan sampai dengan cara atau perilaku
berlaku pada kelompok tersebut.
Perilaku yang berlaku?. Seseorang akan bergerak membentuk
sebuah kelompok kecil hingga menjadi kelompok yang besar. Di dalam sebuah
kelompok akan memunculkan sebuah kebiasaan yang setiap hari berganti. Kebiasaan
perilaku dari kelompok itu sendiri akan lama-kelamaan membentuk sebuah budaya.
Dimana budaya itu akan menjadi acuan atau hal yang harus dilakukan dalam
kelompok.
Namun, yang menjadi masalah pada hakekatnya manusia
adalah makluk yang berjiwa sosial yang tidak bisa bertahan tanpa orang lain.
Bagaimana orang akan terus membutuhkan sebuah kelompok untuk dapat terus
berinteraksi atau berkomunikasi. Pertanyaannya, apakah kita bisa mengikuti
budaya itu atau sebaliknya?.
Merujuk pada buku yang ditulis oleh Deddy Mulyana
tentang ilmu komunikasi yang mengatakan bahwa fungsi komunikasi adalah untuk
sosial. Artinya adanya indikasi bahwa pentingnya sebuah komunikasi sebagai
kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan. Sampai
dikatan bahwa orang yang tidak berkomunikasi dengan manusia lain akan
“tersesat”, karena tidak sempat menata hidupnya.
Sehingga komunikasi menjadikan rujukan atau alat untuk
dapat melihat situasi apapun yang dihadapi. Tidak terkecuali untuk mengatasi
terjadinya problematika yang terjadi ketika seseorang memasuki sebuah kelompok
sosial.
Cara atau strategi dalam mengukur kemampuan
masing-masing seseorang juga dipengaruhi pada bagaimana mereka berkomunikasi.
Pada dasarnya tidak hanya berkomunikasi secara verbal tetapi juga melalui nonverbal
(simbol). Setiap individu secara tidak langsung akan menerima pesan secara
nonverbal mulai status budaya, agama, sosial, bahkan ekonomi.
Munculnya status sosial dan ekonomi yang berlaku pada
kelompok tersebut menjadi perbincangan yang manarik. Seseorang tidak lagi
melihat budaya dan agama secara fanatik (mungkin adanya pemahaman pluralism) tetapi justru munculnya
status sosial dan ekonomi yang ramai perlihatkan.
Dikalangan masyarakat yang semakin “moderenisasi”
dengan beragam kebutuhan yang canggih, memaksa seseorang pada tahap perpindahan
perilaku untuk selalu memiliki. Terjadilah kebutuhan seseorang yang mulanya hanya
kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan primer.
Dari permasalahan yang muncul, kadang seseorang tanpa
berfikir panjang, hanya berasumsi “bagaimana aku bisa memiliku itu dengan
cepat?”. Semua memang butuh proses, tidak ada yang instan (sekejab jadi) dalam
kehidupan. Adanya perjuangan dan sikap diri untuk selalu berusaha membenahi
merupakan bagian dari tindakan yang harus dilakukan untuk bisa mencapainya.
Sanggup atau tidaknya seseorang dalam mengikuti
perkembangan budaya di dalam kelompok sosial memang menjadi tantangan
tersendiri. Alih-alih seseorang dengan merasa terpaksa akan mengikuti gaya
didalam kelompok tersebut, mulai status sosial, penampilan, tingkah laku dan
lain-lain. Kendala seseorang merasa terpaksa adanya pengaruh apakah status
sosialnya sudah pantas menduduki itu, atau bahkan status ekonomi yang tak menjangkau
perubahan yang terjadi dalam kelompok.
Tekanan dan keinginan untuk sama dengan yang lainnya
menyebabkna seseorang berfikir pendek. Dimana seseorang akan merasa senang
ketika kedudukan dan statusnya sama dengan yang lainnya. Namun, semua yang
terjadi pasti ada sebab dan akibat. Ketika seseorang merasa bahwa dirinya
kurang mampu dalam menjangkau, namun dengan terpaksa tetap melakukan. Akibatnya
timbul permasalahn baru, dengan rasa bersalah dan menyesal.
Hal itu mugkin akan teratasi dengan kita menggunakan
cara berkomunikasi yang baik. Komunikasi dengan diri sendiri, atau yang biasa
disebut dengan komunikasi intrapersonal
adalah salah satu cara yang baik untuk mengukur diri sendiri. Merenungkan diri
dan berfikir positif adalah bentuk komunikasi dengan dirinya sendiri. Timbulah
pertanyaan yang mendasar pada diri seseorang, “Sudahkan mampu diri ini?”,
“Adakah beban lain jika dipaksakan?”, hingga timbul “Tekakan apa yang akan
dialami ketika nanti dipaksakan?”. Segelintir pertanyaan yang timbul dalam diri
akan terus muncul. Mungkin itu hanya sebagain kecil contoh dari kegundahan diri
dalam melakukan renungan bagaimana mengukur kemampuan diri.
Usaha yang akan dilakukan seseorang tanpa harus
mengorbankan yang lain dengan keterpaksaan itu adalah dengan tetap
berkomunikasi dengan baik. Walaupun seseorang tidaklah harus dengan mengikuti
perkembangan budaya pada kelompoknya.
Sikap dan perilaku adalah bergantung pada dirinya
sendiri, bagaimana mengambil sikap yang bijak tanpa harus merugikan orang
disekitarnya. Untuk lebih lanjut, orang mengatakan bahwa manusia harus dapat
“mawas diri”. Sikap mawas diri tak jauh beda dengan sikap seseorang dalam
menentukan sikap dalam mengukur kemampuan. Biarpun terjebak pada perasaan
dilema (berbeda dengan lainnya) namun setidaknya sudah berhasil dalam melakukan
pengontrolan diri agar tidak hanya mengikuti hal baru tetapi bagaimana
menyikapinya dengan bijaksanan.
Setip orang pasti megetahui dan
paham akan kemampuan dirinya masing-masing. Ada kekurang dan juga kelebihan.
Kekurangan itulah yang menjadi tantangan untuk dapat mengontrol diri dan
bersikap legowo dengan kenyataan yang
ada tanpa mengurangi sikap untuk terus bersyukur dan ikhlas dengan apa yang
kita miliki walaupun sedikit.


