18 Januari 2015

Kemampuan Diri

tantangan dan harapan
Mengukur Kemampuan Diri Sendiri
Sering seseorang terjebak dalam masalah ataupun situasi yang rimut dan tak terkendalai. Bahkan keadaan memaksa dirinya untuk melakukan sesuatu yang baru juga berbeda dengan sebelumnya. Namun, kadang tak disadari bahwa perubahan itu tidak sebanding dengan kemampuan dirinya. Akhirnya, keterpaksaan dan tekanan dalam dirinya akan bercampur aduk untuk membuat sebuah keputusan.
Pengaruh dari luar sangatlah tiggi, dalam ilmu sosiologi mengatakan bahwa perubahan seseorang dipengaruhi dari beberapa elemen. Walaupun keluarga disebut sebagai pengaruh yang paling rawan, namun kenyataannya sekarang bahwa hal itu sudah berubah. Bukan lagi elemen dari keluarga, tetapi justru dari elemen pergaulan dilingkunganya. Lebih spesifik lagi, pergaulan dikaitkan dengan lingkungan teman, bagaimana cara bergaul, hal apa yang digemari dalam kelompok itu, bahkan sampai dengan cara atau perilaku berlaku pada kelompok tersebut.
Perilaku yang berlaku?. Seseorang akan bergerak membentuk sebuah kelompok kecil hingga menjadi kelompok yang besar. Di dalam sebuah kelompok akan memunculkan sebuah kebiasaan yang setiap hari berganti. Kebiasaan perilaku dari kelompok itu sendiri akan lama-kelamaan membentuk sebuah budaya. Dimana budaya itu akan menjadi acuan atau hal yang harus dilakukan dalam kelompok.
Namun, yang menjadi masalah pada hakekatnya manusia adalah makluk yang berjiwa sosial yang tidak bisa bertahan tanpa orang lain. Bagaimana orang akan terus membutuhkan sebuah kelompok untuk dapat terus berinteraksi atau berkomunikasi. Pertanyaannya, apakah kita bisa mengikuti budaya itu atau sebaliknya?.
Merujuk pada buku yang ditulis oleh Deddy Mulyana tentang ilmu komunikasi yang mengatakan bahwa fungsi komunikasi adalah untuk sosial. Artinya adanya indikasi bahwa pentingnya sebuah komunikasi sebagai kelangsungan hidup, memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan. Sampai dikatan bahwa orang yang tidak berkomunikasi dengan manusia lain akan “tersesat”, karena tidak sempat menata hidupnya.
Sehingga komunikasi menjadikan rujukan atau alat untuk dapat melihat situasi apapun yang dihadapi. Tidak terkecuali untuk mengatasi terjadinya problematika yang terjadi ketika seseorang memasuki sebuah kelompok sosial.
Cara atau strategi dalam mengukur kemampuan masing-masing seseorang juga dipengaruhi pada bagaimana mereka berkomunikasi. Pada dasarnya tidak hanya berkomunikasi secara verbal tetapi juga melalui nonverbal (simbol). Setiap individu secara tidak langsung akan menerima pesan secara nonverbal mulai status budaya, agama, sosial, bahkan ekonomi.
Munculnya status sosial dan ekonomi yang berlaku pada kelompok tersebut menjadi perbincangan yang manarik. Seseorang tidak lagi melihat budaya dan agama secara fanatik (mungkin adanya pemahaman pluralism) tetapi justru munculnya status sosial dan ekonomi yang ramai perlihatkan.
Dikalangan masyarakat yang semakin “moderenisasi” dengan beragam kebutuhan yang canggih, memaksa seseorang pada tahap perpindahan perilaku untuk selalu memiliki. Terjadilah kebutuhan seseorang yang mulanya hanya kebutuhan sekunder menjadi kebutuhan primer.
Dari permasalahan yang muncul, kadang seseorang tanpa berfikir panjang, hanya berasumsi “bagaimana aku bisa memiliku itu dengan cepat?”. Semua memang butuh proses, tidak ada yang instan (sekejab jadi) dalam kehidupan. Adanya perjuangan dan sikap diri untuk selalu berusaha membenahi merupakan bagian dari tindakan yang harus dilakukan untuk bisa mencapainya.
Sanggup atau tidaknya seseorang dalam mengikuti perkembangan budaya di dalam kelompok sosial memang menjadi tantangan tersendiri. Alih-alih seseorang dengan merasa terpaksa akan mengikuti gaya didalam kelompok tersebut, mulai status sosial, penampilan, tingkah laku dan lain-lain. Kendala seseorang merasa terpaksa adanya pengaruh apakah status sosialnya sudah pantas menduduki itu, atau bahkan status ekonomi yang tak menjangkau perubahan yang terjadi dalam kelompok.
Tekanan dan keinginan untuk sama dengan yang lainnya menyebabkna seseorang berfikir pendek. Dimana seseorang akan merasa senang ketika kedudukan dan statusnya sama dengan yang lainnya. Namun, semua yang terjadi pasti ada sebab dan akibat. Ketika seseorang merasa bahwa dirinya kurang mampu dalam menjangkau, namun dengan terpaksa tetap melakukan. Akibatnya timbul permasalahn baru, dengan rasa bersalah dan menyesal.
Hal itu mugkin akan teratasi dengan kita menggunakan cara berkomunikasi yang baik. Komunikasi dengan diri sendiri, atau yang biasa disebut dengan komunikasi intrapersonal adalah salah satu cara yang baik untuk mengukur diri sendiri. Merenungkan diri dan berfikir positif adalah bentuk komunikasi dengan dirinya sendiri. Timbulah pertanyaan yang mendasar pada diri seseorang, “Sudahkan mampu diri ini?”, “Adakah beban lain jika dipaksakan?”, hingga timbul “Tekakan apa yang akan dialami ketika nanti dipaksakan?”. Segelintir pertanyaan yang timbul dalam diri akan terus muncul. Mungkin itu hanya sebagain kecil contoh dari kegundahan diri dalam melakukan renungan bagaimana mengukur kemampuan diri.
Usaha yang akan dilakukan seseorang tanpa harus mengorbankan yang lain dengan keterpaksaan itu adalah dengan tetap berkomunikasi dengan baik. Walaupun seseorang tidaklah harus dengan mengikuti perkembangan budaya pada kelompoknya.
Sikap dan perilaku adalah bergantung pada dirinya sendiri, bagaimana mengambil sikap yang bijak tanpa harus merugikan orang disekitarnya. Untuk lebih lanjut, orang mengatakan bahwa manusia harus dapat “mawas diri”. Sikap mawas diri tak jauh beda dengan sikap seseorang dalam menentukan sikap dalam mengukur kemampuan. Biarpun terjebak pada perasaan dilema (berbeda dengan lainnya) namun setidaknya sudah berhasil dalam melakukan pengontrolan diri agar tidak hanya mengikuti hal baru tetapi bagaimana menyikapinya dengan bijaksanan.

            Setip orang pasti megetahui dan paham akan kemampuan dirinya masing-masing. Ada kekurang dan juga kelebihan. Kekurangan itulah yang menjadi tantangan untuk dapat mengontrol diri dan bersikap legowo dengan kenyataan yang ada tanpa mengurangi sikap untuk terus bersyukur dan ikhlas dengan apa yang kita miliki walaupun sedikit.

Cinta Terpendam

perasaan cinta
Hanya Perasaan Terpendam
Kadang orang dihadapkan pada situasi yang cukup rumit, serasa dirinya dilanda perasaan dilema. Situasi itu memang kerap terjadi pada seseorang yang mengalami rasa cinta tapi hanya dipendam saja. Tanpa banyak berkata untuk mengungkapkan apa yang sebenarnya dirasakan. Yang terjadi pada dirinya hanyalah rasa yang tertahan dan tanpa kepastian yang jelas.
Perasaan akan tampak dan menderu difikirannya, mungkin hanya dirinya yang dapat merasakan karena orang lain tak dapat melihat dan merasakan denga pasti apa yang terjadi. Mungkin persaaan yang terpendam sudah sedikit mewakili cintanya walaupun tanpa ada kata yang terlontar dari mulutnya. Entah apa yang menyebabkan seseorang menjadi takut, bingung, dan rendah diri sehingga hanya terhenti pada batas memendam rasa. Takut? mungkin sebagian orang mengatakan takut karena nanti ditolak. Bingung? bingung karena rasa hanya bisa dibatin tanpa ada kepastian untuk membicarakan. Rendah diri?, sikap seseorang untuk berusaha menutupi dirinya saat sedih karena merasa bahwa dirinya belum mampu untuk melakukan.
Kegundahan mungkin saja akan teratasi, ketika seseorang belajar untuk lebih berani. Berani mengatakan atau mengungkapkan pada orang yang dicintai dengan rasa tanggungjawab. Berani untuk menerima konsekuensi ketika harapannya sirna tanpa ada balasan rasacinta yang sama darinya. Oh, be patient and keep strong guys!!!
Berani untuk jujur. Harapan dan motivasi yang memberikan kekuatan baru ketika seseorang mengalami kegundahan rasa cintanya. Walaupun sering orang mengatakan “Jujur itu kadang menyakitkan ya”. Itu mungkin menjadi pertimbangan dan tantangan, selama seseorang belum melakulan, kata itu hanya isapan jempol. Masing-masing mungkin berhak untuk memberikan intrepetasi kepada pengalama kejujurannya. Dan masing-masing juga berhak mengetahui dengan berani membuktikan, tidak hanya pada konteks wacana atau teori semata.

Memang penyesalan itu akan terasa ketika hal itu berlalu dengan begitu saja, dan itu menjadikan sebuah history. Mungkin sebagian orang akan merasa bahwa mengagumi saja sudah lebih dari cukup, tanpa perasaaan itu harus dibalas. Sikap untuk selalu belajar dari apa yang terjadi, sehingga itu akan menjadikan nilai yang berarti.

01 Januari 2015

Cukup Kakak-Adikan Aja, Ya
“Hmmm gimana kalau kita temenan dulu aja ya?. Itulah awal dari sebuah histori yang membuat relasi semakin dekat. Dari sebuah perkenalan yang tak terduka yang kemudian berlanjut pada sebuah komunikasi baru untuk saling berbagi dengan orang lain
. Berbagai macam usaha mulai dari fikiran sampai tenagapun di keluarkan untuk dapat membangun relasi yang lebih jauh. Tetapi, adakalanya usaha itu kadang terbuang sia-sia karena adanya pendapat dan kesalah pahaman komunikasi diantara keduannya.
 Berfikir adanya relasi yang jelas dan ada statusnya memang perlu. Tapi, hal itu tak semudah yang dibayangkan. Status teman tapi mesra mungkin kurang, apalagi hanya teman biasa. Itulah yang menyebabkan usaha seseorang untuk lebih meningkatkan hubungan supaya memberikan kejelasan status yang lebih baik (diinginkan) yakni ada hubungan berstatus pacaran. Siapa sih yang enggak mau punya pacar, gebetan, sampai calon pasangan hidup?. Pasti hal itu wajar dialami oleh seseorang yang ingin mencari tambatan hatinya.
Ketika sebuah stimuli mendapatkan respon yang bagus , itulah langkah awal dari adanya strategi untuk selalu ingin dekat dan lebih memperhatikan sasaran. Umumnya hal itu dilakukan oleh kaum cowok, kenapa karena cowok sering dianggap lebih aktif untuk mengirimkan stimuli. Sebaliknya perempuan yang lebih peka dalam menangkap stimuli tersebut.
Usaha cowok terdiri beragam macam dan bentuknya untuk mendapatkan hati dan perhatian dari cewek yang disuka. Perhatian memang penting menurut cewek, tapi kadang perhatian yang terlalu berlebihan akan memberikan dampak kurang bagus. Perhatian hanya akan dianggap kurang penting, gombal semata, bahkan masuk kategori perhatian yang terlalu ALAY.
Gejolak jiwa dan fikiranpun akan terus mendorong cowok untuk segera mungkin mendapatkan dan menjadi orang yang mempunyai status disamping cewek. Berfikir untuk menentukan momen yang tepat menjadi hal penting untuk dapat segera mengungkapkan isi hati yang selama ini terpendam.
Tanda tanya besar atau beralusinasi (berandai-andai) akan muncul pada benak si cowok. “Andaikan dia jadi pacaraku, andaikan dia mau dengan aku, andaikan cintaku diterima, dan lain-lain. Segala hal berandai-andai yang bersifat positif dan menyenangkan semua dituangkan dalam benaknya, tanpa berfikir sisi lain yang akan ditemuai dan dirasakan. Ya, karena terlalu bersemangat orang akan lupa sisi ketika menerima kenyataan yang pahit dan tidak diinginkan.
Mungkin berandai-andai yang positif memang diperlu,kan, namun tiada salahnya ketika cowok beralusianasi ketika dirinya nanti dicuekin bahkan cintanya ditolak, betapa sakitnya dan ahncurnya perasaan yang selama ini didambakan. Kata pribahasa, “sedialah payung sebelum hujan”.
Sebuah momen yang menyenangkan dan mendebarkan saat cowok akan mengungkapkan perasaannya kepada cewek secara langsung. Rasa tegang, gugup, takut, ya takut untuk ditolak maksudnya bercampur aduk menjadi satu. Tapi apapun itu adalah sebuah konsekuensi bagi cowok untuk dapat mendapatakan cintanya meski nanti tak sesuai harapan.
Optimis dan percaya diri adalah modal yang harus dimiliki sebelum mengungkapkan perasaannya. Optimis, ya optimis untuk segera mengungkapkan perasaannya sebelum terlalu lama dan tiada kejelasan. Percaya diri, ya percaya diri bahwa cowok harus berani mengungkapkan terlebih dahulu dan yakin bahwa cintanya akan diterima.
Ya, mungkin seseorang akan gembira atau kegirangan ketika cintanya diterima dan akhrinya mendapatkan seorang pacar. Namun, betapa nestapanya ketikan cintanya ditolak oleh si cewek tersebut. Dan lebih nestapa lagi tenyata selama ini cewek hanya menggaapi dingin tas hubungannya, atapun bisa dibilang dia hanya menganggap cowok hanya kakaknya. Konyol juga, tapi itulah kenyataan yang pahit, yang mana harus diterima dengan ikhlas.
Usaha dan persanaan yang selama ini diimpikan ternyata bertepuk sebelah tangan. Dan hanya dianggap sebagai “Kakak-Adikan”. Tindakan itu sudah umum dan jamak dilakukan oleh cewek ketika mereka menolak cinta dari cowok. Hal itu mungkin bisa dibilang hanyalah manifes dari tindakan cewek yang mempunyai maksud menolak tetapi dengan cara halus. Mungkin menurutnya halus, di benak cowok apapun itu kata “reject” adalah hal yang tidak halus tetapi kelam dan menyedihkan.
Banyak alasan cewek dalam menolak cowok, cara “Kakak-Adikan” mungkin sekarang lagi booming dalam wacana. Tapi sebenarnya banyak cara lain yang juga senada dilakukan oleh cewek. Cara atau sikap untuk menghibur cowok dengan memakai penolakan seperti itu dirasa berhasil dan jitu. Tetapi hal itu hanya akan menambah pertanyaan besar, dan tekanan dalam fikiran bagi orang lain.
Di dunia percintaanpun mungkin membutuhkan sebuag ketegasan yang dasar untuk sebuah prinsip. Menyikapi cara cewek melakukan penolakan dengan mengatas namakan “Kakak-Adikan”, mungkin itu adalah simbol yang masih ambigu. Tidak adanya kejelasan penolakkan terjadi dalam kalimat tersebut. Pada dasarnya, kalimat adalah simbol untuk memberikan isyarat atau pesan. Latensi atau inti dari kalimat tersebut tetap sebuah penolakan, hanya saja dimodifkasi untuk agar tidak terlihat frontal atau kaku.
Ketegasan dalam penolakan pasti mempunyai alasan yang jelas juga, apakah menolak karena tidak suka, kurang nyaman, tidak sejalan, dan lain-lain.
Menolak dengan mengatakan “Aku tidak suka kamu!”, mungkin itu jauh lebih jelas nan tegas walaupun mendengarnya sangat menyakitkan dan serasa hidup ini tidak berguna lagi. Tapi, hal itu menjadikan sebuah resiko dan anggapan bahwa sikap cewek tersebut tegas bukannya berbelit-belit.
Sekarang fenomena penolakkan dengan cara “Kakak-Adikan” memang tersebar dimana, dan itu bisa jadi menjadi budaya anak muda. Opini yang akan terbangun dengan adanya itu, pertama hal itu menjadi konyol artinya setiap cewk menolak cinta dari cowok dikatakannya “Kakak-Adikan” saja. Secara logika, andaikan si cewek menolak sepuluh cowok dalam setahun artinya cewek tersebut sudah mempunyai sepuluh saudara tanpa ada hubungan darah yang jelas dari mana asalnya dalam setahun. Akibatnya, tidak bisa membedakan lagi ini saudara asli atau saudara dari hasil penolakan. Dan kedua, menimbulkan ke PD-an yang over pada cewek. Artinya, ini belum ada hubungan atau adanya pacaran saja sudah mengaku kalau cowok itu adalah kakaknya.
Hidup adalah pilihan dan pengorbanan, begitu juga cinta. Penolakkan dalam cinta juga sebuah perjuangan dan pilihan yang harus diterima konsekuensi oleh setiap mereka yang punya cinta.