21 Juli 2014

Trend Media Sosial Bagi Pemilih Pemula

Uforia pesta demokrasi Indonesia memang sudah berlalu setelah dilaksanakannya pemilihan presiden dan wakil presiden pada 9 Juli 2014 kemarin. Namun, hal itu masih menyisihkan kenangan dan perjuangan terutama para relawan maupun tim sukses masing-masing pendukung.
Bentuk dukungan yang besar adalah bentuk masyarakat yang semakin terbuka mengenai pentingnya demokrasi. Dukungan pun mengalir dari berbagai lapisan masyrakat bahkan para komunitas anak muda yang turut meramaikan pesta lima tahunan itu.
Adanya peran anak muda menjadikan pesta demokrasi semakin kreatif. Relawan yang tergabung dari berbagai lapisan anak muda menyuarakan kampanye kepada masyarakat untuk menggunakan hak memilihnya. Akibatnya, peran anak muda akan mejadikan nilai tersediri dalam menekan angka golput yang masih berlaku di masyarakat.
Selain pengaruh UU yang menagatur tentang setiap warga Negara yang berumur lebih dari 17 tahun atau sudah menikah dapat menggunakan hak pilihnya. Disamping itu ada rasa kesadaran pada pemilih pemula untuk dapat menyumbangkan suaranya demi perubahan Negara untuk lima tahun mendatang.
Para pemuda mulai berfikir kritis dan independen, tidak menerima kebijakan begitu saja dalam menyikapi pesta demokrasi. Untuk itu akan menjadi mubadzir (sia-sia) kalau hak pilih mereka tidak digunakan. Artinya setiap suara dari pemilih pemula akan sangat berharga bagi nasib rakyat Indonesia nanti baik dari segi pendidikan, ekonomi, sosial, dan budaya.
Peningkatan pemilih dari kalangan anak muda juga tidak lepas dari gaya kampaye kreatif pesta demokrasi sekarang. Internet sebagai media yang paling bebas untuk menyuarakan aspirasi setiap masyarakat, tidak terkecuali para anak muda yang mengawal pemilu tahun ini.
Media yang menjadi alternatif tersebut dijadikan sebagai upaya meningkatkan peran anak muda untuk ikut bersuara dalam menentukan pilihanya nanti.
Tidak menutup kemungkinan bahwa pemilih pemula merupakan pengguna internet atau penikmat media sosial. Sehingga akan berpengaruh bagi pemilih pemula dalam menyikapi berita maupun kampanye para kandidat di jejaring sosial secara kritis dan mandiri.
Suara pemilih pemula yang meningkat akan berpengaruh pada keadaan sekitarnya dalam memberikan keteladanan sikap demokrasi yang cerdas dan bijak.
Bagi para pemilih pemula, adanya profil masing-masing calon presiden dan wakil presiden di media massa menjadi kebutuhan yang harus ada sebagai referensi menentukan hak pilihnya.
Selain adanya tayangan di media televisi yang membahas berlangsungnya acara debat itu. Namun disaat bersamaan, informasi atau pemberitaan yang up to date sangat diperlukan bagi pemilih pemula. Informasi dianggap sebagai upaya calon presiden dan wakil presiden untuk bisa menggalang suara masyarakat untuk menentukan pilihannya nanti.

Pada akhirnya peran pemilih pemula mejadi esensial, sehingga menjadikan sikap responsif terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden untuk meraup suara sebanyak-banyaknya dari kalangan anak muda sebagai penentu kemenangan.

14 Juli 2014

Pembangunan Untuk Rakyat Agraris


Melalui pesta demokrasi lima tahunan itu, bangsa Indonesia berharap agar suatu hari nanti menemukan pemimpin yang tepat dan peduli untuk kemajuan pembangunan di Indonesia. Yah, pilihan calon presiden dan wakil presiden adalah momentum dimana masyarakat akan menggunakan hak pilihnya, dengan melihat dan mendengarkan setiap visi dan misi untuk perubahan baru.
            Dari berbagai banyak program yang diusung oleh setiap pasangan capres dan cawapres, masyarakat Indonesia menaruh harapan penuh dengan mendukung program-program terutama berkaitan dengan pembangunan.
            Masalah mengenai pembangunan, setidaknya masyarakat sudah dapat memilih atau menentukan dari  acara debat yang diselenggarakan oleh KPU (Komisi Pemilihan Umum) dengan mengangkat tema “Pangan, Energi, dan Lingkungan Hidup” tidaklah jauh dengan pemaparan dan realisasi visi dan misi pembangunan yang akan dijalankan pasangan yang terpilih.
            Bahwa tidak jarang pasangan capres maupun cawapres mengkampanyekan program yang menyinggung adanya perubahan pembangunan yang baru di Indonesia. Sehingga dari program tersebut, ada salah satu program pasangan yang tidak jauh beda yaitu mengenai pengadaan lahan sawah untuk petani. Setiap pasangan menjajikan bahwa jika nanti terpilih, akan memanfaatkan sawah yang berukuran bukan lagi meteran tapi hektar untuk wadah petani.
            Adanya program kepeduliannya terhadap pembanguna agraris, menjadikan masyarakat menaruh harapan besar terhadap pemimpin baru. Keadaan lahan dan bahan pangan yang melimpah memang salah satu tolok ukur kemakmuran masyarakat. Namun hal itu akan sia-sia jika hanya janji belaka. Dimana hanya memanfaatkan keadaan masyarakat Indonesia yang sebagaian besar berprofesi sebagai tenaga agraris.
            Impor bahan pangan adalah salah satu masalah bagi bangsa, dimana harga pangan didalam negeri akan menurun. Sehingga masyarakat agraris hanya akan merasakan dampak kebijakan pemerintah yang tidak seimbang dengan nasib petani lokal.
            Hanya janji belaka yang ditelan oleh masyarakat, jika pemimpin Negara hanya bisa merumuskan perencanaan tanpa realisasi yang jelas. Tidak terkecuali mengenai masalah kesejahteraan para petani atau masyarakat agraris.
            Masyarakat agraris bukan semata-mata hanya butuh pada perluasan lahan pertanian. Tapi bagaimana caranya pemberdayaan kelompok petani ini dapat berjalan dengan seimbang.
            Pemberdayaan itu dapat dilakukan dengan menciptakan kelompok amupun bank khusu untuk petani, serta dengan memberikan arahan potensi kedepan dalam mengembangkan usaha pertaniaannya.
            Disisi lain memang masyarakat agraris perlu juga adanya dana guna untuk operasional, tapi akan menjadi tidak terealisasi jika itu hanya peberian lahan tanpa adanya pengetahuan dan pemberian konsep baru dari pemerintah.
            Pada akhirnya petani hanya akan memanfaatkan keadaan lahan dengan tidak maksimal. Belum lagi keadaan pangan dan harga hasil pertanian sangat jauh dari harapan. Artinya masyarakat merasa senang akan perluasan lahan. Tetapi disisi lain, masyarakat agraris akan merasa dilema karena bahan pangan yang di impor tersebut tetap tinggi. Hal itu hanya akan menambah beban masyarakat, yang tidak bisa meikmati hasil pangannya dengan maksimal. Sehingga yang terjadi bahan pangan didalam negeri akan tergempur oleh pasukan dari luar, akibatnya petani tidak bisa mengembalikan biaya operasionalnya kembali.